× -bahasa-

×

view_list1.png Artikel     view_masonry.png Galeri     view_list2.png Video    
×
  • url:
×
×
    ×
    2 0 0 0 0 0
    2
       ic_mode_dark.png

    Nationalgeographic.co.id—Akhenaten merupakan firaun Mesir kuno yang mengubah kepercayaan, seni, dan kehidupan politik kerajaannya. Namun, setelah kematiannya, para penerusnya berusaha menghapus jejak pemerintahannya. Penelitian arkeologi di Amarna kini mengungkap sisi lain dari revolusi sang penguasa, termasuk kehidupan masyarakat yang selama berabad-abad luput dari perhatian.

    Akhenaten bukan hanya dikenal sebagai ayah Tutankhamun, firaun muda yang makamnya ditemukan pada 1922. Ia juga merupakan penguasa yang mengambil langkah radikal untuk mengubah Mesir kuno pada abad ke-14 SM. Ia mengganti namanya, memindahkan ibu kota, mengubah praktik keagamaan, dan mendorong perubahan besar dalam seni kerajaan.

    Namun, warisan Akhenaten tidak bertahan tanpa perlawanan. Setelah ia meninggal sekitar 1336 SM, para penerusnya menghancurkan patung-patungnya dan menghilangkan namanya dari daftar resmi penguasa Mesir. Berabad-abad kemudian, ketika para arkeolog kembali menemukan jejak pemerintahannya, sosok Akhenaten justru dipandang sebagai simbol perubahan.

    Untuk memahami penguasa yang kontroversial ini, para peneliti tidak hanya mempelajari peninggalan kerajaan. Mereka juga menggali pemakaman penduduk biasa di Amarna, kota yang didirikan Akhenaten sebagai ibu kota baru. Dari sana, muncul gambaran kehidupan yang berbeda dari kemegahan istana dan kuil yang dibangunnya.

    Revolusi yang mengubah Mesir

    Akhenaten awalnya naik takhta dengan nama Amenhotep IV. Pada tahun kelima pemerintahannya, ia mengganti namanya menjadi Akhenaten, yang berarti mengabdi kepada Aten, sekaligus memutuskan memindahkan ibu kota ke wilayah yang kini dikenal sebagai Amarna.

    Kota barunya dinamai Akhetaten, atau Cakrawala Cakram Matahari. Akhenaten memilih hamparan gurun di tepi timur Sungai Nil karena wilayah itu belum tercemar oleh pemujaan terhadap dewa mana pun. Dalam waktu relatif singkat, kota tersebut berkembang menjadi permukiman yang diperkirakan dihuni sekitar 30.000 orang.

    Perubahan besar juga terjadi dalam kehidupan keagamaan. Jika masyarakat Mesir sebelumnya menyembah banyak dewa, Akhenaten memusatkan kesetiaannya kepada Aten, yang digambarkan sebagai cakram matahari dan merupakan salah satu bentuk dewa matahari Re.

    Akhenaten dan istrinya, Nefertiti, menempatkan diri sebagai perantara utama antara masyarakat dan Aten. Dengan demikian, mereka mengambil peran yang sebelumnya dijalankan oleh kalangan pendeta. Nefertiti bahkan diangkat sebagai penguasa bersama, meskipun sejauh mana ia menjalankan kekuasaan politik masih belum jelas.

    Kebijakan ini mengancam kedudukan para pendeta yang melayani Amun, salah satu dewa penting dalam tradisi Mesir. Setelah beberapa tahun tinggal di Amarna, Akhenaten memerintahkan para pekerja mengikis gambar Amun di kuil-kuil negara.

    Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian simbol keagamaan. Akhenaten berusaha mengubah tatanan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan Mesir.

    Seni baru di tengah kehidupan yang berat

    Revolusi Akhenaten juga terlihat dalam karya seni. Selama berabad-abad, seniman Mesir mengikuti aturan ketat mengenai proporsi, pose, dan penggambaran figur. Pada masa Akhenaten, mereka menghasilkan karya yang lebih alami, dengan adegan kehidupan keluarga kerajaan yang terasa lebih intim.

    Akhenaten dan Nefertiti, misalnya, digambarkan mencium serta membelai anak-anak mereka. Penggambaran sang firaun pun berbeda dari tradisi sebelumnya, dengan rahang besar, bibir terkulai, dan mata memanjang.

    Akan tetapi, gambaran kehidupan kerajaan tidak cukup untuk menjelaskan pengalaman masyarakat biasa di Amarna.

    Pada awal 2000-an, survei di gurun sekitar kota itu menemukan empat lokasi pemakaman. Para arkeolog dan bioarkeolog kemudian meneliti sisa-sisa manusia di sana untuk memperoleh gambaran tentang kehidupan penduduk selama ibu kota tersebut berdiri, yang hanya berlangsung sekitar 17 tahun.

    Dari salah satu pemakaman terbesar, peneliti mengumpulkan sampel kerangka sedikitnya 432 orang. Hasilnya menunjukkan bahwa 70 persen individu yang usia kematiannya diketahui meninggal sebelum mencapai usia 35 tahun. Lebih dari sepertiganya meninggal sebelum berusia 15 tahun, sedangkan hanya sembilan orang yang diperkirakan hidup melewati usia 50 tahun.

    Pertumbuhan anak-anak mengalami keterlambatan hingga dua tahun. Sementara itu, banyak orang dewasa menunjukkan kerusakan tulang belakang yang oleh para peneliti diduga berkaitan dengan beban kerja berlebihan, kemungkinan untuk membangun ibu kota baru.

    Penelitian di pemakaman lain, pada 2015, menemukan 135 jenazah. Sebanyak 92 persen individu yang dimakamkan di sana berusia tidak lebih dari 25 tahun, dan lebih dari separuhnya meninggal pada usia tujuh hingga 15 tahun. Sejumlah jenazah tampaknya dimakamkan secara tergesa-gesa, tanpa banyak benda kubur. Dalam beberapa kasus, orang-orang yang tidak memiliki hubungan keluarga ditemukan di satu liang.

    Anna Stevens, arkeolog yang memimpin penelitian pemakaman tersebut, mempertanyakan apakah sebagian dari mereka merupakan pekerja muda yang dikerahkan ke tambang batu kapur milik raja dan mengalami beban kerja yang sangat berat.

    Temuan-temuan itu tidak menjelaskan seluruh penyebab kematian penduduk Amarna. Namun, bukti kekurangan gizi dan kerusakan tulang memberikan gambaran yang jauh lebih rumit daripada bayangan tentang kota ideal yang dibangun oleh seorang penguasa visioner.

    Di Neues Museum di Berlin, patung dada Akhenaten menyimpan bekas pergolakan pada masa kuno maupun modern. Patung itu dihancurkan oleh para penerus sang raja pada abad ke-14 SM, lalu kembali mengalami kerusakan saat dipindahkan selama Perang Dunia II.

    Di Neues Museum di Berlin, patung dada Akhenaten menyimpan bekas pergolakan pada masa kuno maupun modern. Patung itu dihancurkan oleh para penerus sang raja pada abad ke-14 SM, lalu kembali mengalami kerusakan saat dipindahkan selama Perang Dunia II.

    Mengapa Akhenaten dilupakan?

    Setelah Akhenaten meninggal, putranya, Tutankhaten, naik takhta ketika usianya diperkirakan tidak lebih dari 10 tahun. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Tutankhamun, meninggalkan Amarna, dan kembali pada tradisi keagamaan lama.

    Tutankhamun juga mengeluarkan dekret yang menggambarkan Mesir berada dalam keadaan buruk, seolah-olah para dewa telah meninggalkan negeri itu. Pada masa berikutnya, Akhenaten disebut sebagai penjahat dan pemberontak. Horemheb, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala militer, menjadi firaun, sementara para penerusnya, termasuk Ramses Agung, membongkar bangunan kerajaan dan kuil-kuil Amarna.

    Patung Akhenaten dan Nefertiti dihancurkan, sedangkan nama sang penguasa dihilangkan dari daftar resmi raja-raja Mesir. Upaya penghapusan itu begitu berhasil sehingga kota dan kehidupan masyarakatnya ikut terlupakan.

    Ketika para arkeolog modern kembali meneliti Amarna, mereka menemukan peninggalan yang membantu menjelaskan mengapa Akhenaten terus diperdebatkan. Sebagian peneliti mengagumi kreativitas dan pembaruan seninya, sementara yang lain menyoroti kecenderungannya memaksakan kehendak sebagai penguasa absolut.

    Bahkan, anggapan bahwa Akhenaten merupakan penganut monoteisme perlu diperlakukan secara hati-hati. Sejumlah peneliti tidak menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan pemerintahannya karena masyarakat Mesir masih menyembah dewa-dewa lain pada masa itu.

    Kini, Amarna menghadapi ancaman lain, termasuk perluasan lahan pertanian ke wilayah kota kuno yang belum digali. Penelitian arkeologi pun terus berhadapan dengan keterbatasan dan gejolak politik yang memengaruhi pelestarian peninggalan masa lalu.

    Kisah Akhenaten pada akhirnya bukan hanya tentang seorang firaun yang berusaha mengubah Mesir. Kisah ini juga memperlihatkan bagaimana penguasa membangun narasi tentang dirinya, bagaimana penerusnya berusaha menghapus narasi tersebut, dan bagaimana bukti arkeologis membuka kembali bagian sejarah yang terlupakan.

    Di makam-makam penduduk biasa Amarna, para peneliti belum menemukan penyebutan Akhenaten atau Nefertiti seperti yang ditemukan pada makam para pejabat tinggi. Kehidupan orang-orang itu tidak menjadi bagian utama dari kisah yang dibangun sang raja.

    Lebih dari tiga milenium kemudian, Akhenaten tetap menjadi sosok yang sulit dinilai secara sederhana. Ia meninggalkan perubahan besar dalam agama dan seni, tetapi bukti dari Amarna mengingatkan bahwa sejarah seorang penguasa tidak pernah sepenuhnya mewakili kehidupan semua orang yang berada di bawah kekuasaannya.

    ---

    ❮ sebelumnya
    selanjutnya ❯
    infodunia
    +

    banner_jasaps_250x250.png
    <<
    login/register to comment
    ×
    • ic_write_new.png expos
    • ic_share.png bagikan
    • ic_order.png urutan
    • sound.png malsAI
    • view_list2.png listHD
    • ic_mode_dark.png night
    × bagikan
      ic_posgar2.png x.png tg.png wa.png link.png
    • url:
    × urutan
    ic_write_new.png ic_share.png ic_order.png sound.png view_list2.png ic_mode_dark.png ic_other.png
    +
    ic_argumen.png

    Belum ada argumen, jadilah yang pertama